🩺 Keluhan
Mengalami kecemasan dan "kebingungan" karena keadaan keluarga: istri meninggal setelah melahirkan anak kedua tahun 2020. Anak pertama Autis dan anak kedua hiperaktif (IQ keduanya belum diketahui). Kedua anak membutuhkan penangana intensif dengan pengasuhan pada orangtua yang sudah berumur 70 tahun, sementara klien harus bekerja dari pagi sampai malam (pukul 10/11). Kondisi ini menimbulkan kekuatiran pada dari pihak orangtua sehingga menganjurkan klien untuk menikah lagi namun, sampai saat ini belum menemukan pasangan yang tepat karena kuatir apakah nanti akan menerima kedua anak dengan kondisi seperti saat ini.
📋 Hasil Asesmen
Klien memiliki resilensi tergolong baik dan mampu menangani masalah yang dihadapi dengan baik. Kondisi dan tuntutan pengasuhan anak yang butuh intensitas memang menimbulkan kecemasan namun, sejauh ini masih dapat diatasi dengan baik. Klien butuh teman bercerita dan ini adalah wajar.
🔧 Intervensi
Tetap membuka link pertemanan/relasi dekat dengan lawan jenis. Kedua anak butuh kasih sayang anak jadi menikah perlu dipertimbangkan dengan model "pacaran" yang harus melibatkan anak sehingga pasangan sudah mulai mengenal kondisi anak. Dengan demikian pasanganpun sudah lebih awal mempertimbangkan komitmen yang bersama "menilah". Untuk penanganan anak, diberikan terapi yang tepat sejak dini dan melakukan pendampingi anak dengan sebisa mungkin mengurangi jam kantor dan di hari-hari libur intens dengan anak-anak.
💡 Rekomendasi
Menjalin perteman dengan intensitas fokus pada kebutuhan anak. Memperkenalkan anak sesuai kondisi riil anak. Mengurangi jam kantor supaya ada waktu untuk anak. Mempertimbangkan rekomen teman dan orangtua demi anak-anak
📝 Catatan Konselor
Klien berumur 36 tahun, 9 bulan, bekerja pada 2 tempat berbeda. Memiliki 2 anak yang membutuhkan penanganan khusus. Anak pertama autis dan anak kedua hiperaktif. Menurut keterangan klien istri nya sudah meninggal sejak tahun 2020 paska melahirkan. Kedua anak dalam pengasuhan orangtua yang sudah lanjut (70 tahun). Klien harus bekerja dari pagi sampai malam karena membutuhkan biaya (anak) yang tinggi karena keadaannya yang spesial autis. Kehilangan istri dan keadaan anak membuatnya bingung untuk menikah lagi sesuai saran teman-teman dan permintaan orangtua. Keinginan konsultasi adalah ini dibantu dalam permasalahan yang cukup membuatnya bingung dan cemas dalam mengambil keputusan karena mencari pasangan bukan hal mudah dan harapan bahwa bila harus menikah lagi pasangan dapat menerima dan merawat kedua anaknya sesuai kondisi mereka.